The Best Fluffy Pancakes recipe you will fall in love with. Full of tips and tricks to help you make the best pancakes.
Membangun Ikatan dengan Anak Lewat Kegiatan Sehari-hari

Sebagai seorang ibu rumah tangga yang mengurus anak sendirian di rumah, aku sering merasakan betapa melelahkannya hari-hariku. Pagi hingga malam, rutinitas tak pernah berhenti. Seperti memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan yang paling utama, mengasuh si kecil yang berusia 3 tahun. Anak ku, yang ku panggil Adek, adalah sumber kebahagiaan sekaligus tantangan terbesar. Dia aktif, dengan rasa penasaran yang tinggi. Serta selalu ingin perhatian penuh dariku.
Sebagai ibu, aku harus bisa mengelola waktu agar semuanya berjalan lancar. Cerita ini adalah salah satu pengalamanku yang mengajarkan betapa pentingnya melibatkan anak dalam kegiatan sehari-hari. Serta membangun ikatan dan mengajarkan keterampilan hidup. Semoga bisa menginspirasi para ibu lain yang sedang berjuang sepertiku.
Di tengah kesibukanku sedang memasak di dapur, anakku tiba-tiba datang dan berkata: “Mama jangan masak. Ayo temani aku aja main di depan” sambil menarik tangan dan bajuku. “Adek main dulu ya, nanti mama temani main setelah mama selesai masak,” jawabku sambil menyiapkan peralatan untuk memasak.
Tetapi tetap saja anak merengek hingga menangis. Si kecil terus mengajak untuk bermain bersama di depan rumah. Di tengah kelelahan dan kesibukanku sebagai seorang ibu rumah tangga, aku harus tetap bersabar dan kontrol emosi. Supaya otak bisa tetap waras dan memikirkan bagaimana solusi terbaik untuk kebaikan bersama.
Pas kebetulan hari itu saya mau bikin perkedel. Aku mencuci bersih kentang yang belum dikupas. Kemudian aku membawa truk mainannya ke dapur. Aku mengajak anak untuk menaruh kentang itu di atas truknya. Jadi seolah-olah truknya sedang mengangkat batu. Hal itu sepertinya menarik perhatian anak. Perlahan dia mulai memasukkan beberapa buah kentang ke dalam truk mainannya dengan penuh hati-hati.
“Coba hitung dulu kentangnya ada berapa ya,” tanya ku. Dia spontan saja menjawab ada lima, Mama. “Coba hitung dulu yang benar. Ayo kita hitung bersama. Hitungan mulai dari satu ya,” kataku sambil memasukkan beberapa kentangnya satu persatu ke dalam truk mainan. “1… 2… 3… 4… 5… wah ada 5 Mama,” katanya dengan girang. Si kecil terlihat lebih bersemangat. Ia menambahkan lagi beberapa kentang ke dalam truk hingga penuh. Beberapa kentang berjatuhan. Si kecil senang sambil tertawa terbahak-bahak.
Melihat keseruan si kecil sedang asyik bermain, aku buru-buru mengupas bawang merah dan bawang putih. Kemudian memetik cabe untuk membuat sambal. Lumayan, aku bisa juga menyelesaikan mengupas bawang putih dan bawang merah untuk bumbu memasak sayur, perkedel, dan masakan lainnya.
Di saat aku mulai fokus mengulek cabe untuk sambal, anakku sudah mulai bosan dan kembali memintaku untuk segera berhenti memasak. Ia terus merengek dan menangis supaya aku mau sssss bermain keluar rumah. Tapi mau bagaimana lagi, masakan aja baru dimulai dan semuanya belum ada yang matang. Belum ada yang bisa dimakan.
Aku bergegas membuka kulkas. Mengambil buah pepaya. Kemudian mengupas dan memotongnya untuk dimakan bersama anak. Setidaknya ada makanan yang masuk untuk mengganjal perutku yang sudah mulai kelaparan. Saya baru sadar. Ternyata dari pagi saya belum sarapan. Karena sejak bangun pagi, saya memasak hanya pas untuk bekal suami dan anak ke sekolah. Kemudian aku lanjut membereskan rumah, menyuapi anak makan, mencuci perabotan dapur dan mencuci pakaian.
Selesai makan buah, anak kembali menangis dan rewel. Aku mengambil sebuah cobek yang tidak dipakai. Kemudian memberikan kulit pepaya dan beberapa potongan sayuran untuk ditumbuk sebagai mainan. Anakku ikut meniru menumbuk dan mengulek seperti aku mengulek cabe. Sembari bercerita dan bertanya tentang banyak hal, anak saya mulai memungut kulit-kulit kentang yang sudah dikupas untuk ditumbuk dan dijadikan mainan.
Anak saya mulai bertanya tentang banyak hal, seperti Mama bikin apa, Mama masak apa. Ini sayur apa. Saya berusaha untuk menjawab pertanyaan dan menjelaskan tentang semua yang ia ingin tahu. Di situlah terjalin komunikasi dan kerja sama yang baik antara aku dan anak.
Selesai mengupas kentang, menggoreng dan memasak, saya mengajak anak untuk membuang sampah ke tong sampah. Awalnya anak tidak mau. Tapi perlahan dia mulai membantu membuang beberapa sampah sayuran. Aku menyadari bahwa menjadi ibu rumah tangga yang mengasuh anak itu tidak mudah. Terutama ketika mengelola emosi dan menjaga perkataan di saat kondisi fisik dan mental tidak sedang baik-baik saja.
Meskipun mengasuh anak itu adalah tanggung jawab bersama antara suami dan istri, tapi faktanya seorang ibu lah yang lebih banyak berperan penting dalam mengurus anak. Dari pengalaman ini, aku belajar bahwa melibatkan anak dalam pekerjaan rumah adalah salah satu kunci untuk mengatasi rengekan mereka.
Anak usia 3 tahun seperti anakku sedang dalam fase eksplorasi, di mana segala sesuatu bisa menjadi permainan. Dengan mengajaknya menghitung kentang atau menumbuk sayuran, saya tidak hanya menyelesaikan masakan, tapi juga mengajarkan konsep angka, tanggung jawab, dan kerja sama. Ini membantu perkembangan kognitif dan emosionalnya.
Para ahli parenting sering bilang, anak yang dilibatkan sejak dini akan lebih mandiri dan menghargai usaha orang tua. Tapi, jujur saja, tidak setiap hari mudah. Ada saat-saat saya merasa lelah dan ingin marah. Di sini, kesabaran jadi senjata utama. Anak bukan musuh, tapi partner kecil ku. Jika rengekan berlanjut, aku alihkan dengan aktivitas sederhana seperti yang saya lakukan. Terkadang mainan untuk bantu pekerjaan, atau beri tugas kecil yang aman. Ini juga mencegah anak merasa diabaikan, yang bisa berdampak pada ikatan kita.
Sebagai ibu yang mengurus semuanya sendiri, saya juga belajar pentingnya self-care. Meski sibuk, sisihkan waktu untuk istirahat. Seperti makan buah bersama anak. Itu bukan kemewahan, tapi kebutuhan agar saya tetap kuat. Tidak ada ibu yang sempurna. Tapi usaha kecil seperti ini bisa membuat hari lebih menyenangkan. Bagiku mengasuh anak itu adalah investasi jangka panjang. Dengan komunikasi yang baik dan kesabaran, semoga aku bisa membangun keluarga yang harmonis dan membentuk generasi yang tangguh dan mandiri.




